Mimpi di Balik Jendela
Di balik jendela yang sederhana,
kulihat langit membentang tanpa batas,
awan berjalan membawa cerita,
sementara anganku diam-diam berkemas.
Di sana, jauh di balik cakrawala,
ada mimpi yang belum sempat kusapa,
ada jalan yang belum pernah kutempuh,
dan harapan yang tak pernah benar-benar luluh.
Setiap pagi cahaya menyelinap,
melewati celah tirai yang terbuka,
seolah berkata dengan lembut,
“Jangan takut untuk melangkah.”
Namun terkadang aku hanya terdiam,
memandang dunia dari balik kaca,
menghitung jarak antara ingin dan kenyataan,
menimbang keberanian dengan keraguan.
Berapa lama mimpi harus menunggu?
Berapa jauh langkah harus berjalan?
Apakah cukup hanya dengan berharap,
atau haruskah aku mulai bergerak?
Lalu angin mengetuk jendela,
membawa suara dari dunia yang luas.
Ia berbisik tanpa banyak kata,
“Tak ada mimpi yang tumbuh dari diam.”
Maka kubuka perlahan jendela itu,
membiarkan cahaya memenuhi ruang,
kubawa mimpiku keluar bersamaku,
meski langkah pertama masih gamang.
Kini aku tahu,
jendela bukanlah batas bagi perjalanan,
ia hanyalah tempat untuk melihat,
ke mana hati ingin melangkahkan harapan.
Dan jika suatu hari aku sampai
di tempat yang dahulu hanya kulihat dari kejauhan,
aku akan menoleh kepada jendela itu
dan tersenyum kepada diriku yang pernah menunggu.
Sebab ternyata,
mimpi tidak pernah meminta kita sempurna.
Ia hanya meminta satu keberanian:
membuka jendela, lalu melangkah keluar.